marine science

kumpulan tugas kuliah

Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Di Kabupaten Sumbawa Barat


Perencanaan, Pengelolaan dan Pengembangan wilayah pesisir

Kabupaten Sumbawa Barat

  1. A. Gambaran secara umum Kabupaten Sumbawa Barat

 

Pulau Sumbawa memanjang dengan arah timur-barat dan tersayat oleh beberapa lembah yang berarah utama timurlaut – baratdaya dan baratlaut – tenggara. Teluk Saleh merupakan lekuk terbesar dan membagi Pulau sumbawa ini menjadi dua bagian, yaitu Sumbawa Barat dan Timur (Sudrajat, 1974). Perkembangan pemanfaatan daerah pesisir pantai Sumbawa Barat sejak 7 tahun terakhir menjadi sangat pesat baik sebagai daerah hunian, pertambakan, budidaya laut maupun sebagai daerah tujuan wisata.( I. W. Lugra, A. Wahib, Y. Darlan dan R. Zuraida, 2010). Keragaman potensi sumberdaya pesisir dan laut tersebut dapat dikembangkan menjadi salah satu sektor unggulan dalam menunjang pembangunan wilayah pesisir di kabupaten Sumbawa Barat.

 

Peta lokasi Kabupaten Sumbawa Barat
Koordinat : 116°42’00” – 117°08’00” BT dan 8°22,5’00” – 9°05’00” LS

 

Secara administratif yang termasuk ke dalam Wilayah Kabupaten Sumbawa Barat yang meliputi 8 kecamatan, yaitu Kecamatan Seteluk, Poto Tano, Brang Ene, Brang Rea, Sekongkang, Maluk, Taliwang dan Jereweh yang dibatasi oleh koordinat, Koordinat : 116°42’00” – 117°08’00” BT dan 8°22,5’00” – 9°05’00” LS  seluas lebih kurang 740 Km2. dengan panjang garis pantai lebih kurang 90 km dan mempunyai jumlah penduduk kurang lebih 99.056 jiwa (Pemkab sumbawa Barat).

Pada bagian utara yaitu daerah Labuan Tano sampai Labuan Sepakek, di Kecamatan Seteluk, berkembang pesat sebagai lahan pertambakan, sedangkan di bagian tengah yaitu di Teluk Taliwang Kecamatan Taliwang, pesisir dan laut dimanfaatkan untuk budidaya laut (kerang mutiara) yang diusahakan secara modern. Di bagian selatan yang berkembang sebagai kota wisata adalah Desa Maluk, Kecamatan Jereweh .

 

 

  1. B. Wilayah di sumbawa Barat yang mempunyai potensi sumber daya pesisir

 

Tanjung  Tano sampai Tanjung  Blusun

Kawasan ini mempunyai garis pantai hampir berarah baratdaya timur laut dan telah berkembang sebagai usaha pertambakan modern yaitu mulai dari Tanjung Tano sampai Labuan Sepakek. Terdapat Pelabuhan Tano Poto Tano di kabupaten Sumbawa Barat, dan masiih masuk dalam wilayah propinsi Nusa Tenggara Barat, fungsi utama pelabuhan ini adalah sebagai pintu masuk ke wilayah pulau sumbawa dari arah arah barat (dari pulau Lombok). Disamping itu daerah ini sebagai hunian tradisional seperti Labuan Sepakek dan Kampung Blusun yang terletak di Tanjung Blusun . Dilihat dari gejala perubahan garis pantainya daerah yang berkembang sebagai usaha tambak adalah daerah yang terjadi proses akresi dan abrasi khususnya di daerah labuan Tano. Namun proses abrasi yang terjadi di Labuan Tano sangat kecil dan hampir tidak berpengaruh karena daerah tersebut terlindung oleh Pulau Belang serta didukung oleh perairan selat yang dangkal dan adanya terumbu karang. Ditinjau dari aspek karakteristik garis pantai kawasan ini aman untuk dikembangkan sebagai pertambakan maupun daerah hunian dan wisata pantai dengan tetap memperhatikan faktor kelestarian lingkungan.

 

Tanjung  Blusun sampai Tanjung  Kertasari

 

Kawasan ini hampir sebagian besar kondisi pantainya mengalami abrasi kecuali sedikit di bagian selatan Tanjung Blusun dan sebelah utara Muara Sungai Taliwang. Abrasi yang terjadi sepanjang kawasan ini cukup signifikan yang disebabkan oleh letak geografis dari pantai tersebut dan juga akibat penebangan hutan bakau oleh penduduk setempat. Pantai yang mengalami akresi sebelah utara muara sungai Taliwang yang cocok dikembang sebagai pertambakan. Saat ini lahan tersebut telah dimanfaatkan oleh penduduk sebagai lahan tambak yang diusahakan secara kekeluargaan. Kawasan ini tidak berkembang karena penghuninya jarang dan sebagian besar hidup sebagai nelayan dan petani tradisional. Di daerah yang sebagian besar berupa lahan pesisir merupakan semak yang belum dimanfaatkan.

 

Tanjung  Kertasari sampai Tanjung  Jelenga

Kawasan ini merupakan pantai teluk yang mengalami proses abrasi, dan merupakan daerah yang cepat berkembang karena berdekatan dengan kampung/desa yang mempunyai penghuni yang relatif padat seperti Kota Kecamatan Taliwang dan Labuan Lalar. Perkembangan pesisir dan laut ditandai dengan banyaknya usaha budidaya mutiara di perairan dekat pantai, khususnya di teluk Taliwang, sehingga untuk mendukung usaha tersebut daerah pantai berkembang menjadi daerah hunian para pekerja. Sedangkan daerah pesisir Labuan Balat yang mempunyai panorama indah dengan tanggul gisik pantai yang lebar berkembang menjadi kawasan wisata pantai dan dekat dengan kota Kecamatan Taliwang. Di daerah muara cocok dikembangkan menjadi daerah tambak karena daerahnya stabil dan didukung oleh pedataran alluvium yang relatif luas. Secara umum perkembangan daerah pesisir di kawasan ini masih terkendali dan belum berdampak negatif terhadap lingkungan maupun kestabilan pantai.

 

 

 

Tanjung  Jelenga sampai  Maluk

Kawasan ini sebagian besar mengalami akresi yaitu Tanjung Jelenga, Teluk Benette dan Pantai Maluk, dengan karakteristik pantai tanggul gisik lebar lebih dari 25 meter, relief pantai sedang dan perairan yang jernih. Sedangkan sebagian lainnya mengalami abrasi namun karena resistensi (ketahanan) pantai yang tinggi terhadap energi gelombang, maka tidak terjadi perubahan garis pantai yang signifikan. Daerah yang mengalami akresi secara kebetulan saat ini telah berkembang menjadi daerah tujuan wisata pantai yang terdapat di Kecamatan Jereweh. Kondisi ini didukung oleh keberadaan PT. Newmont di Kecamatan Jereweh, sebagai perusahaan multinasional besar yang menampung banyak tenaga kerja baik dari daerah setempat maupun luar NTB.

 

  1. C. Tujuan konsep pengembangan pesisir yang akan dilakukan

 

Tujuan

Pengembangan dan perencanaan wilayah pesisir di Kabupaten Sumbawa Barat berdasarkan data mengenai karakteristik dan potensi wilayah pesisir serta sumberdaya manusianya secara tersusun, terintegrasi, dan berkelanjutan sehingga terwujud suatu wilayah pesisir yang berkembang di segala aspek kehidupan.

 

  1. D. Sasaran atau planning jangka pendek dan jangka panjang wilayah pesisir Kabupaten Sumbawa Barat

Jangka Pendek :

  • Pemberian modal / bantuan dana pada sektor perikanan( nelayan dan petambak)
  • Peningkatan mutu hasil produk perikanan tangkap dan budidaya
  • Pengadaan alat tangkap dan armada kapal yang lebih modern
  • Penyuluhan tentang sumberdaya pesisir dan lautan (mangrove, terumbu karang, padang lamu, ikan, juga mungkin sumber daya minyak dan gas bumi)
  • Pembuatan konsep tata ruang wilayah pesisir yang baik
  • Perbaikan mutu pendidikan masyarakat pesisir didukung dengan pembangunan fasilitas pendidikan yang memadai
  • Perbaikan kesehatan masyarakat
  • Perbaikan sarana transportasi, air bersih dan sarana lainnya yang menyangkut kebutuhan masayarakat secara umum

 

Jangka Panjang :

  • Terkelolanya sumberdaya kelautan dan perikanan dengan baik dan berkelanjutan
  • Peningkatan Pendapatan dan kesejahteraan masyarakat wilayah pesisir Kabupaten Sumbawa Barat
  • Terciptanya sarana dan prasarana yang terpadu dan memadai
  • Pembangunan wilayah pesisir Sumbawa Barat berbasiskan mayarakat

 

  1. Pendekatan pengembangan wilayah pesisir

 

Pengembangan usaha perikanan merupakan bidang usaha yang cenderung lebih diminati oleh para investor yang masuk ke Kabupaten Sumbawa Barat. Selain produksi perikanan laut yang lebih menggiurkan bagi para investor antara lain budidaya usaha tambak, rumput laut dan budidaya kerang mutiara.

Sektor perikanan mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan, baik untuk budi dayanya maupun penangkapannya, baik itu di laut ataupun di perairan umum/darat. Wilayah pesisir dan pantai di Sumbawa Barat begitu luas, sehingga  peluang  pengembangan  sub  sektor  perikanan  ini sangat   terbuka. Komoditi-komoditi  yang masih bisa dikembangkan seperti rumput laut, biji mutiara, kerapu, lobster dan teripang selain penangkapan ikan di  laut. Begitu pula  untuk  pengembangan  budi  daya  di  perairan  umum/darat seperti kolam, keramba dan sawah.

Sebagai daerah administratif yang sebagian besar wilayahnya berbatasan dengan laut, produksi perikanan laut di Sumbawa Barat pada tahun 2008 memang mendominasi produksi sub sektor perikanan, sebesar 88,24% dari total produksi perikanan adalah disumbangkan dari Perikanan Laut dan Pantai. Sekain itu Sektor pertambangan di Kabupaten Sumbawa Barat juga cukup memberikan memberikan kontribusi yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Dilihat dari potensi pertambangan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat hampir di setiap kecamatan memiliki potensi bahan tambang dan galian dengan luasan dan volume yang cukup besar seperti marmer, batu gamping, kaolin, andesit, endas, perak, tembaga, dan lain-lain yang memiliki prospek yang cerah untuk investasi.

 

Tabel Produksi Ikan Dirinci Menurut Kecamatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2008 (ton)

(Sumber: Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kab. Sumbawa Barat)

 

 

Kecamatan

Penangkapan Budi Daya  

Jumlah

Seluruhnya

Laut Perairan umum  

Jumlah

 

Tambak

Kolam/

keramba

 

Sawah

 

Jumlah

POTO TANO 602 60 662 662
SETELUK 60,00 3,2 63,2 82,5 82,5 148,9
TALIWANG 1.616 62,5 1.678,5 50,5 68,2 118,7 1.797,2
BRANG ENE
BRANG REA 33 1,4 34,4 34,4
JEREWEH 206 4 210 3,2 9 12,2 222,2
MALUK 284,4 3 287,4 2,1 289,5 92,1
SEKONGKANG 167 2 169 6,4 6,4 175,4
Jumlah 2.935,4 134.7 3.070,1 53,7 201,2 1,4 256,3 3.326,4

 

Berdasarkan potensi yang dimiliki, dalam perencanaan, pengelolaan dan pengembangan wilayah pesisir di Kabupaten Sumbawa Barat didasarkan pada UU No 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan juga ICZM (Integrated Coastal Zone Management)  penataan ruang wilayah pesisir yang terintegrasi.

Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antar sektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Pemanfaatan perairan pesisir diberikan dalam bentuk Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (“HP-3”) meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut. HP-3 diberikan kepada pihak – pihak dalam bentuk sertifikat HP-3, yaitu sebagai berikut:

  1. Orang perseorangan warga negara Indonesia.
  2. Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia.
  3. Masyarakat adat.

 

Selain memberikan HP-3, dalam perencanaan pengelolaan wilayah pesisir kita juga harus memperhatikan aspek sosial masyarakat pesisir seperti :

  1. Memberdayakan masyarakat sekitar lokasi HP-3
  2. Mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak masyarakat adat atau masyarakar lokal
  3. Memperhatikan hak masyarakat untuk mendapatkan akses ke sempadan pantai dan muara sungai
  4. Melakukan rehabilitasi sumberdaya yang mengalami kerusakan di lokasi HP-3

Lalu pemanfaatan pulau – pulau kecil dan perairan kecuali untuk konservasi , pendidikan dan pelatihan, serta penelitian dan pengembangan, pemanfaatan pulau – pulau kecil,wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Persyarataan pengelolaan lingkungan.
  2. Memperhatikan kemampuan sistem tata air setempat.
  3. Menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

Untuk pemanfaatan wilayah pesisir dengan Konsep ICZM (Integrated Coastal Zone Management) diperlukan beberapa konsep pemikiran sebagai berikut :

 

 

 

 

Jadi, dalam pembuatan rencana strategis untuk perencanaan, pengelolaan dan pengembangan wilayah pesisir dipengaruhi oleh isu dan arah pembangunan saat ini yang berwawasan lingkungan dan ini diperlukan rencana zonasi berdasarkan potensi SDA yang dimiliki dan juga rencana pengelolaannya oleh masyarakat , lalu dirumuskan hal-hal yang akan dilakukan dan merealisasikannya untuk pengembangan wilayah pesisir yang kita inginkan.

 

  1. F. Peran Kepemerintahan dalam pengembangan wilayah pesisir

Dalam konsep perencanaan, pengelolaan dan pengembangan wilayah pesisir diperlukan dukungan dari lembaga-lembaga pemerintahan yang khusus menangani masalah seputar pengembangan wilayah pesisir, diantaranya :

  • Kementrian Kelautan dan Perikanan, untuk urusan, pengembangan aspek sumber daya perikanan tangkap, budidaya, melakukan riset dan urusan pengelolaannya.
  • Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, untuk urusan , memanfaatkan potensi sumberdaya energi yang ada ( barang tambang, minyak dan gas bumi), lalu penyediaan sumber energi (listrik) untuk aktivitas masyarakat.
  • Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, untuk urusan pengelolaan hasil perikanan tangkap maupun budidaya.
  • Kementrian Pekerjaan Umum, untuk urusan pembangunan infrastruktur Kabupaten Sumbawa Barat
  • Kementrian kesehatan, untuk urusan pelayanan kesehatan masyarakat dan pusat kesehatan kerja
  • Kementrian Koperasi dan UKM, untuk urusan pengembangan dan restrukturisasi usaha dan pemasaran hasil usaha
  • Kementrian Dalam Negeri, untuk urusan otonomi daerah

 

 

  1. G. Masalah- masalah yang dihadapi dalam Perencanaan , Pengelolaan dan pengembangan Wilayah Pesisir Kabupaten Sumbawa Barat

Perkembangan yang cukup  pesat di Kabupaten Sumbawa Barat  ini secara umum belum ditata secara sistematik terutama yang menyangkut masalah tata ruang dan dan dampaknya terhadap lingkungan disekitarnya. Beberapa hal yang terjadi dan akan berpengaruh terhadap lingkungan pesisir adalah :

  1. Pembuatan beberapa pelabuhan kecil dan bangunan pantai untuk mendukung kegiatan wisata yang tidak  memperhatikan aspek osenografi perairan setempat.
  2. Pengambilan material pantai untuk pemenuhan bahan bangunan pembuatan sarana dan prasarana wisata akan mengganggu kesetimbangan pantai.
  3. Bangunan untuk tempat hunian yang tidak beraturan dan tanpa didukung sistem drainase dan pengelolaan sampah rumah tangga yang memadai akan berakibat buruk terhadap lingkungan. Ketiga faktor tersebut akan menjadi masalah dikemudian hari bila tidak ditata sejak dini, terutama masalah limbah rumah tangga yang akan mencemari laut.

  1. H. Solusi Permasalahan Perencanaan, Pengelolaan dan Pengembangan Wilayah Pesisir

 

Masalah-masalah yang timbul dalam pengembangan wilayah pesisir dapat diminimalisir dengan pengembangan wilayah pesisir berwawasan lingkungan, sehingga pembagunan berjalan dengan lancar dengan diimbangi dengan kelestarian lingkungan sekitar yang tetap terjaga. Caranya adalah :

  1. Pembangunan sarana pelabuhan dengan memperhatikan aspek-aspek oseanografi (arus, angin dan gelombang)
  2. Pengolahan produk kelautan dan perikanan yang ramah lingkungan
  3. Pengolahan limbah rumah tangga yang dapat didaur ulang sehingga menghasilkan produk lain yang bisa dimanfaatkan
  4. Pemanfaatan hutan mangrove sebagai green belt, yang dapat melindungi kawasan pesisir di belakangnya
  5. Analisis kemampuan lahan dikawasan pesisir yang mampu menjadi tempat pusat kegiatan masyarakat pesisir, seperti aktivitas penangkapan dan budidaya laut

December 22, 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

TUGAS BLOG BUDIDAYA LAUT


Kapan Mulai?

Budidaya laut mempunyai sejarah yang panjang sejak 2.000 tahun sebelum Masehi ketika orang di Jepang memulai pemeliharaan tiram laut (oyster). Dari literatur diketahui, bahwa Cina sudah memelihara ikan di air asin sejak 475 sebelum Masehi dan budidaya tiram laut di Junani sejak 100 tahun sebelum Masehi.

Budidaya rumput laut yang menurut sejarahnya diteliti sejak abad ke 18 pada Ekspedisi Sibolga oleh pemerintah Hindia Belanda (1890-1900), berhasil mengidentifikasi kurang lebih 550 jenis rumput laut di perairan laut Indonesia.Rumput laut merupakan aset ekonomi negara yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan dan sumber energi yang dapat diandalkan untuk menghasilkan devisa negara.

Untuk Budidaya rumput laut dilakukan pada saat musim kemarau bukan musim penghujan, hal ini dikarenakan dalam saat pemanenan diperlukan sinar matahari yang optimal pada saat pengeringan.

Mengapa?

Untuk mengurangi penangkapan ikan yang overfishing, dengan melakukan budidaya laut tidak hanya melakukan produksi namun menjaga kelestarian ekosistem laut, dapat menciptakan usaha dan lapangan kerja yang baru, menghasilkan komoditi ekspor dalam rangka meningkatkan devisa negara. Selain itu untuk mengefisienkan dan mengefektifkan

Pengertian:

Budidaya laut merupakan upaya rekaya lingkungan perairan untuk menghasilkan suatu komoditas atau bisa didefinisikan  sebagai upaya pengembangan potensi dari sumber daya alam dalam area terbatas baik itu terbuka ataupun tertutup

Ruang Lingkup :

Oseanografi Fisika (Gelombang, arus, pasut)

Oseanografi kimia (Suhu, pH, salinitas, mineral anorganik)

Oseanografi biologi (sebaran nutrien)

sosial – ekonomi (pemberdayaan ke masyarakat pesisir/petani, pengelolaan produksi, management pemasaran)

management lingkungan

Jenis – jenis :

Jenis-jenis teknik budidaya yaitu bagan tancap, tambak, rakit gantung

Proses Kegiatan

  • Pre-Budidaya

1. SDM

Ini adalah hal terpenting yang harus dipikirkan apabila kita ingin melakukan suatu kegiatan budidaya laut ini, karena tanpa sumber daya manusia yang ada mustahil kita bisa melakukan budidaya. Biasanya SDM yang kita manfaatkan adalah warga sekitar lokasi budidaya berada yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi mereka. Dalam hal ini SDM yang di perlukan untuk budidaya rumput laut sekitar 10 orang untuk manajemen, 10 orang untuk urusan teknis dalam budidaya, dan 10 orang untuk urusan produksi rumput laut skala menengah, lalu bagian administrasi 10, total SDM yang di perlukan sekitar 40 orang.

2. Modal

Dalam melakukan budidaya laut diperlukan modal yang tidak sedikit, sehingga diperlukan kejelian dan manajemen yang baik agar bisa mendapatkan modal yang cukup untuk melakukan budidaya laut, karena biasanya pihak yang meminjamkan modal ( bank, koperasi, swasta ) menginginkan proposal pengajuan modal yang real dan sesuai dengan apa yang akan dilakukan saat budidaya nanti

3. Jenis Organisme yang akan dibudidayakan

Jenis organisme yang akan dibudayakan adalah rumput laut jenis eucheuma sp, jenis ini sebelumnya sudah banyak di budidayakan oleh masyarakat, sehingga kita tidak usah lagi mencari refrensi tentang budidaya Euchema sp, cukup mengumpulkan data dari nelayan yang pernah berbudidaya jenis rumput laut ini.

4. LokasiTeknik / Metode

Penanaman metode Rakit Apung adalh metode yang tepat untuk budidaya rumput laut ini. Penanaman dengan metoda rakit ini menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu berukuran antara (2,5 x 2,5 ) meter persegi sampai (7 x 7) meter persegi tergantung pada kesediaan bahan bambu yang dipergunakan. Untuk penahanan supaya rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan jangkar sebagai penahanan atau diikat pata patok kayu yang ditancapkan di dasar laut . Pemasangan tali dan patok harus memperhitungkan faktor ombak, arus dan pasang surut air. Metoda rakit cocok untuk lokasi dengan kedalaman 60 cm.

  • Budidaya
  1. Monotoring organisme, bibit, alat rekonstruksi, lingkungan

Penyediaan benih Eucheuma sp relatif mudah, karena tersebar di sepanjang perairan pantai dan dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif.

Di dalam usaha budidaya bibit yang baik merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi, karena akan menyangkut segi pemasaran dan kelangsungan usaha budidaya itu sendiri, sehingga tidak akan merugikan petani/nelayan karena kandungan biota karagenan yang rendah diperlukan persyaratan bibit sebagai berikut :

  1. Mempunyai angka pertumbuhan harian baik, yang menyangkut masa panen produksi yang menguntungkan.
  2. Keadaan biologi yang baik sehingga mempunyai kadar kandungan yang karagenan yang tinggi yang nantinya akan merupakan jaminan pemasaran yang baik.

Ciri bibit yang baik :
1. Bibit tanaman harus muda
2. Bersih dan
3. Segar.

  1. Pembesaran
  • Pasca-Budidaya
  1. Panen

Setelah melakukan kegiatan budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp, kegiatan panen merupakan kegiatan akhir dalam kegiatan budidaya ini dimana rumput laut siap dipanen pada umur 1 – 1.5 bulan setelah tanam.

Untuk panen budidaya rumput laut ini, rumpu laut harus dikeringkan terlebih dahulu, sehingga sebaiknya panen dilakukan pada pagi hari.Hal ini bertujuan untuk mengurangi kerusakan kualitas sebelum dijemur kembali keesokan harinya.(Anonim.2010)

2. Pasca Panen

Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen pada budidaya rumput laut ini meliputi pencucian, pengeringan, pembersihan kotoran atau garam (sortasi), pengepakan, pengangkutan, penyimpanan, serta pemasaran.

  1. Pencucian

Untuk rumput laut jenis Eucheuma sp dicuci dengan air laut sebelum diangkat kedarat.

2. Pengeringan

Pengeringan disini dilakukan dengan menjemur tanpa bantuan alat, hal ini dikarenakan lebih praktis dan murah.Rumput laut yang sudah dicuci dijemur di atas bamboo atau plastic sehingga tidak terkontaminasi oleh tanah maupun pasir.Pada kondisi panas matahari yang optimal, rumput laut akan kering dalam waktu 3-4 hari.Rumput laut tidak boleh terkena air tawar, baik air hujan maupun air embun.

3. Pembersihan Kotoran / garam (sortasi)

Dalam membersihkan kotoran yang masih menempel dilakukan Pengayakan menempel. Sortasi adalah pembuangan kotoran yang menempel dan rumput laut jenis lain yang tidak dikehendaki.

4. Pengepakan

5. Pengakutan

6. Penyimpanan

7. Pemasaran

Nama anggota kelompok :

Shifa Dini  Fitriani   230210080004

Dwijayanti Arum Sari 230210080036

Rama Wijaya 230210080050

Indriani 230210080061

Furkon 230210080062

June 6, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Resume Mata Kuliah Ekologi Laut Tropis


BAB I. SEJARAH EKOLOGI

Manusia tertarik pada ekologi dalam cara yang praktis sejak awal sejarahnya. Di dalam masyarakat yang primitif setiap individu, untuk hidupnya, perlu memiliki pengetahuan yang pasti tentang lingkungannya, yakni mengenai tenaga-tenaga alam dan mengenai tumbuhan serta binatang di sekitarnya. Ekologi mempunyai ruang lingkup seperti halnya dalam Kendeigh (1980) yaitu sebagai berikut :
1. Distribusi dan kelimpahan setempat dan secara geografis jenis makhluk (Habitat, Relung, Komunitas Dan Biogeografi)

2. Perubahan menurut waktu dan keberdaan, kelimpahan serta aktivitas makhluk hidup (Musiman, Tahunan, Seksional, Seologik)

3. Saling keterkaitan antara makhluk dalam populasi serta komunitas (Ekologi Populasi)

4. Adaptasi struktural dan penyesuaian fungsional oleh makhluk terhadap lingkungan fisik mereka (Ekologi Fisiologi)

5. Perilaku hewan terhadap kondisi alam (Ethologi)

6. Perkembangan evolusioner semua saling berkaitan (Ekologi Evolusioner)

7. Produktivitas hayati alam bagaimanakah produktivitas ini berguna paling baik bagi kemanusiaan (Ekologi Ekosistem)

8. Perkembangan model matematik untuk menghubungkan interaksi parameter dan membuat perkiraan mengenai pengaruh (Analisis Sistem)

Ekologi Laut Tropis

Salah satu kajian menarik yaitu kajian tentang ekologi laut tropis. Habitat air laut (oceanic) ditandai oleh salinitas yang tinggi dengan ion Cl mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termocline. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.

  1. Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.
  2. Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.
  3. Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m
  4. Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m).

Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut :

  1. Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
  2. Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200 1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
  3. Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
  4. Abisal pelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.
  5. Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

BAB II. ADAPTASI DAN EVOLUSI

Hampir semua makhluk hidup melakukan adaptasi untuk dapat bertahan hidup, begitu juga makhluk hidup yang ada di laut. Bentuk adaptasi sendiri lama kelamaan akan menghasilkan suatu perubahan pada makhluk hidup yang disebut proses evolusi. Kedua hal ini akan saling berkaitan satu sama lainnya.Berikut ini pengertian lebih mendalam tentang adaptasi dan evolusi dalam suatu ekosistem.

Adaptasi dapat juga dinyatakan sebagai kemampuan individu untuk mengatasi keadaan lingkunggan dan menggunakan sumber-sumber alam lebih baik untuk mempertahankan hidupnya dalam relung (nisia, niche) yang diduduki. Organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk:

  1. memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan).
  2. mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas.
  3. mempertahankan hidup dari musuh alaminya.
  4. bereproduksi.
  5. merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis. Bentuk-bentuk adaptasi antara lain, adaptasi morfologi, fisiologi, tingkah laku.

Dampak dari adaptasi sendiri adalah evolusi. Teori evolusi dikembangkan berdasarkan ide (gagasan) dan fakta-fakta seperti; fosil, keanekaragaman, homologi, ontogeni dan sebagainya. Ada dua teori yang sangat mendasar dalam mempelajari teori evolusi. Pertama; Teori Lamarck tentang penurunan sifat suatu individu, bahwa modifikasi yang diperoleh suatu organisme karena adaptasi terhadap lingkungan diwariskan kepada keturunannya. Kedua; Teori Darwin; bahwa ada 3 kenyataan dalam mengembangkan teori evolusi; pertama; bukti fosil yang memberi petunjuk kehidupan di masa lampau; kedua; persamaan tumbuhan dan hewan peliharaan dengan tumbuhan dan hewan liar; ketiga; setiap spesies cenderung untuk bertambah, sehingga timbul persaingan untuk mempertahankan keberadaan.

BAB III.  HABITAT, RELUNG (NICHE)

Pada dasarnya makhluk hidup secara alamiah akan memilih habitat dan relung ekologinya sesuai dengan kebutuhannya, dalam arti bertempat tinggal, tumbuh berkembang dan melaksanakan fungsi ekologi pada habitat yang sesuai dengan kondisi lingkungan (misalnya di laut), nutrien, dan interaksi antara makhluk hidup yang ada. Relung ekologi bukan konsep yang sederhana, melainkan konsep yang kompleks yang berkaitan dengan konsep populasi dan komunitas. Relung ekologi merupakan peranan total dari semua makhluk hidup dalam komunitasnya.

Suksesi

Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem, suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas klimaks Komunitas klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

Lalu proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun. Coba kalian bandingkan kejadian suksesi pada daerah yang ekstrim (misalnya di puncak gunung atau daerah yang sangat kering). Pada daerah tersebut proses suksesi dapat mencapai ribuan tahun.

BAB IV.  SIKLUS BIOGEOKIMIA

Di laut terdapat nutrien sebagai sumber makanan bagi biota laut,seperti nitrogen, fosfor, silikat, karbon, dan oksigen. Ketersediaan nutrien tadi menjadi salah satu faktor pembatas bagi organisme di laut dikarenakan jumlahnya yang terbatas. Keterbatasan tadi dikarenakan siklus biogeokomia dari nutrien-nutrien tersebut yang melibatkan komponen biotik dan abiotik. Siklus biogeokimia terdiri dari beberapa macam siklus ,siklus-silkus tersebut antara lain silkus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus sulfur. Tetapi bahasan yang akan kita bahas adalah hanya 3 macam siklus yaitu, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus fosfor.

  1. Siklus  karbon dan oksigen

Sumber-sumber CO2 di atmosfer berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik.Di ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di air.

Pada atmosfer proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama siklus karbon. Naik turunnya CO2 dan O2 atsmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas Fotosintetik. Dalam skala global kembalinya CO2 dan O2 ke atmosfer melalui proses respirasi yang mnghasilkan CO2 dan proses  fotosintesis yang menghasilkan oksigen..

Akan tetapi pembakaran kayu dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2 ke atmosfir. Sebagai akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2 atmosfer juga berpindah masuk ke dalam dan ke luar sistem akuatik, dimana CO2 dan O2 terlibat dalam suatu keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya.

2. Siklus Nitrogen

    Di alam, Nitrogen terdapat dalam bentuk senyawa organik seperti urea, protein, dan asam nukleat atau sebagai senyawa anorganik seperti ammonia, nitrit, dan nitrat

    Siklus Nitrogen adalah transfer nitrogen yang melibatkan komponen biotik dan abiotik, proses awalnya adalah nitrogen yang ada di atmosfer ditransfer ke dalam tanah melalui hujan secara tidak langsung  dan fiksasi nitrogen secara langsung. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan, bakteri Azotobacter dan Clostridium. Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen.

    Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan mati, mahluk pengurai merombaknya menjadi gas amoniak (NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+). Proses ini disebut dengan amonifikasi. Bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak dan senyawa ammonium menjadi nitrit dan nitrat oleh Nitrobacter. Apabila oksigen dalam tanah terbatas, nitrat dengan cepat ditransformasikan menjadi gas nitrogen atau oksida nitrogen oleh proses yang disebut denitrifikasi.

    3. Siklus Fosfor

      Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Herbivora mendapatkan fosfat dari tumbuhan yang dimakannya dan karnivora mendapatkan fosfat dari herbivora yang dimakannya. Seluruh hewan mengeluarkan fosfat melalui urin dan feses. Selain itu hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Sehingga, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap dari air tanah oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus.

      BAB V.  PENGELOLAAN SUMBER DAYA WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN SECARA TERPADU

      A.Wilayah Pesisir

      Wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benuaPerencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Sektoral: oleh satu instansi pemerintah untuk tujuan tertentu misal perikanan, konflik kepentingan Perencanaan Terpadu: mengkoordinasikan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tataruang.

      B. Kerusakan Pesisir

      Beberapa kerusakan yang telah terjadi di wilayah pesisir adalah :

      1. Laju sedimentasi menyebabkan pendangkalan,
      2. Konversi mangrove menjadi tambak udang, menjadi bahan bakar dan arang
      3. Penambangan,Pembangunan pantai (pemukiman), perkebunan (kelapa sawit) dan pertanian,
      4. Reklamasi lahan pantai
      5. Masuknya limbah yang tidak diolah,
      6. Pembangunan pelabuhan dan bangunan laut ,
      7. Eksploitasi sumberdaya perikanan,pengambilan karang untuk bahan bangunan dan pembuangan limbah

      C. Ekosistem Terumbu Karang

      Salah satu penyangga ekosistem pesisir yaitu terumbu karang. Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Zooxanthellae adalah suatu jenis algae yang bersimbiosis dalam jaringan karang. Zooxanthellae ini melakukan fotosintesis menghasilkan oksigen yang berguna untuk kehidupan hewan karang.Terumbu karang memang unik sifatnya yang berasosiasi dengan biota laut.Terumbu ini dibangun dari proses biologik, ang merupakan timbunan masif dari kapur CaCO3 yang dihasilkan oleh hewan karang dan juga alga berkapur dan organisme-organisme penghasil kapur lainnya.

      Ekosistem terumbu karang ini umumnya terdapat pada perairan yang relatif dangkal dan jernih serta suhunya hangat ( lebih dari 22 derjat celcius) dan memiliki kadar karbonat yang tinggi. Binatang karang hidup dengan baik pada perairan tropis dan sub tropis serta jernih karena cahaya matahari harus dapat menembus hingga dasar perairan. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis, sedangkan kadar kapur yang tinggi diperlukan untuk membentuk kerangka hewan penyusun karang dan biota lainnya..

      Manfaat Terumbu Karang :

      1. Tempat tinggal ( Habitat ), berkembang biak ( nursery ground ) dan mencari makan( Feeding ground ) ribuan jenis ikan, tempat mencari ikan ( fishing ground ), dll
      2. Ekosistem Terumbu karang memberi manfaat langsung kepada manusia dengan menyediakan makanan, obat-obatan, bahan bangunan, dan bahan lain
      3. Sebagai produktivitas primer di laut , satu terumbu dapat meenunjang 3.000 jenis biota (Sri Juwana,2009)

      Ancaman terhadap terumbu karang

      • Pencemaran minyak dan industri,
      • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan serta penambangan karang
      • Peningkatan suhu permukaan laut (SPL)
      • Pencemaran limbah domestik dan kelimpahan nutrien
      • Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan
      • Perusakan akibat aktivitas pelayaran

      Upaya Pelestarian

      • Mengendalikan/ meminimalkan penambangan karang untuk lahan bangunan
      • Mencegah kegiatan pengerukan atau kegiatan lainnya yang menyebabkan terjadinya endapan/ sedimentasi
      • Penyuluhan terhada masyarakat tentang pentingnya peran terumbu karang bagi ekosistem pesisir
      • Kegiatan transplantasi terumbu karang untuk memulihkan ekosistem terumbu karang yang telah rusak

      D.  Ekosistem Padang Lamun


      Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae),mempunyai akar,batang,daun sejati yang hidup pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut  dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi

      Fungsi Ekologi

      Fungsi ekologi yang penting dari padang lamun yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang

      Ancaman Terhadap Ekosistem Padang Lamun

      1. Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)
      2. Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
      3. Pembuangan sampah organik
      4. Pencemaran limbah pertanian
      5. Pencemaran minyak dan industri

      Upaya Pelestarian

      1. Mencegah terjadinya pengrusakan akibat pengerukan dan pengurugan kawasan lamun
      2. Mencegah terjadinya pengrusakan akibat kegiatan konstruksi di wilayah pesisir
      3. Mencegah terjadinya pembuangan limbah dari kegiatan industri, buangan termal serta limbah pemukiman
      4. Mencegah terjadinya penangkapan ikan secara destruktif yang membahayakan lamun
      5. Memelihara salinitas perairan agar sesuai batas salinitas padang lamun
      6. Mencegah terjadinya pencemaran minyak di kawasan lamun

      E. Ekosistem Mangrove

      Sebagai salah satu ekosistem yang ada di pesisir mangrove mempunyai ekosistem  yang unik, karena karakteristik daerahnya berbeda dengan ekosistem di laut maupun di darat, Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain:

      • Sebagai pelindung garis pantai,
      • Pencegah intrusi air laut,
      • Tempat tinggal (habitat),
      • Feeding ground,  nursery ground, spawning ground
      • Serta sebagai pengatur iklim mikro.

      Sedangkan fungsi ekonominya antara lain sebagai penghasil keperluan rumah tangga, industri, dan penghasil bibit. Mangrove merupakan produsen primer yang mampu menghasilkan sejumlah besar detritus dari daun dan dahan pohon mangrove dimana dari sana tersedia banyak makanan bagi biota-biota yang mencari makan pada ekosistem mangrove tersebut, dan fungsi yang lainnya adalah sebagai daerah pemijahan (spawning ground) bagi ikan-ikan tertentu agar terlindungi dari ikan predator, sekaligus mencari lingkungan yang optimal untuk memijah dan membesarkan anaknya. Selain itupun merupakan pemasok larva udang, ikan dan biota lainnya.

      Ancaman terhadap Hutan Mangrove

      Perubahan hutan mangrove menyebabkan gangguan fungsi ekologi mangrove:

      –          Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian

      –          Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya

      –          Penebangan ilegal

      Metode Pengukuran dan Penentuan Kerusakan Mangrove

      Metode Transek Garis atau Line Intercept Transect (LIT) dan Petak contoh (Transect plot) yaitu metode pencuplikan contoh populasi suatu komunitas dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut

      BAB VI.  EKOSISTEM MANGROVE

      Mangrove salah satu tanaman tropis dan komunitasnya yang tumbuh pada daerah intertidal khususnya daerah laut tropis. Daerah intertidal seperti laguna, estuarin, pantai dan river banks. Mangrove merupakan ekosistem yang spesifik karena pada umumnya hanya dijumpai pada pantai yang berombak relatif kecil atau bahkan terlindung dari ombak, di sepanjang delta dan estuarin yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan.

      Jenis-jenis mangrove :

      • Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
      • Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
      • Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
      • Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
      • Lythraceae (sonneratia, dll)

      Fungsi mangrove secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :

      1.  Fungsi Fisik

      a.  menjaga garis pantai dan tebing sungai dari erosi/abrasi agar tetap stabil

      b.  mempercepat perluasan lahan

      c.   mengendalikan intrusi air laut

      d.  melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan gelombang dan angin kencang

      e.  menguraikan/mengolah limbah organik

      2.  Fungsi Biologis/Ekologis

      1. tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) berbagai jenis ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya
      2. tempat bersarang berbagai satwa liar, terutama burung
      3. sumber plasma nutfah

      3.  Fungsi Ekonomis

      a.    hasil hutan berupa kayu

      b.    hasil hutan bukan kayu, seperti madu, bahan obat-obatan, minuman, makanan, tanin

      c.    lahan untuk kegiatan produksi pangan dan tujuan lain (pemukiman, pertambangan, industri, infrastruktur, transportasi, rekreasi)

      Jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jumlah jenis mangrove yang ada di Indonesia mencapai 89 yang terdiri dari 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit, dan 2 jenis parasit (Nontji, 1987). Dari 35 jenis pohon tersebut, yang umum dijumpai di pesisir pantai adalah Avicennia sp,Sonneratia sp, Rizophora sp, Bruguiera sp, Xylocarpus sp, Ceriops sp, dan Excocaria sp.

      Kerusakan Mangrove Saat Ini

      Di Indonesia, mangrove tersebar hampir di seluruh pulau besar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua, dengan luas sangat bervariasi bergantung pada kondisi fisik, komposisi substrat, kondisi hidrologi, dan iklim yang terdapat di pulau-pulau tersebut Pada tahun 1982, hutan mangrove di Indonesia tercatat seluas 4,25 juta ha, sedangkan menurut Departemen Kehutanan (1997) dalam Onrizal dan Kusmana (2008) pada tahun 1993 luas hutan mangrove menjadi 3,7 juta ha, sehingga terjadi penurunan luas 0,55 juta ha dalam kurun waktu 11 tahun atau laju kerusakan 0,05 juta ha/tahun.Penyebabnya salah satunya adalah konversi lahan mangrove menjadi lahan tambak dan perkebunan kelapa sawit. Eksploitasi dan degradasi hutan mangrove yang tidak terkontrol dikhawatirkan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan ekosistem kawasan pantai seperti intrusi air laut, abrasi pantai dan punahnya berbagai jenis flora dan fauna. Kerusakan hutan mangrove yang berlangsung secara terus menerus berpotensi merusak perekonomian lokal, regional dan nasional dalam sektor perikanan.Untuk jangka panjang kerusakan mangrove dapat menurunkan produksi perikanan laut. Rusaknya hutan mangrove juga dapat mengakibatkan terputusnya ekosistem (mata  rantai kehidupan mahluk hidup terganggu) dan sebagai akibatnya akan menimbulkan   3 ketidakseimbangan antara mahluk hidup dan alam.

      Disusun Oleh :

      Ramawijaya                  230210080050

      M. Indera G. S. P.        230210080051

      Program Studi Ilmu Kelautan

      Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

      Jatinangor

      2010

      April 15, 2010 Posted by | Marine Ecology | 1 Comment


      RANTAI MAKANAN DAN ALIRAN ENERGI PADANG LAMUN

      DI PULAU BIAWAK

      Pulau Biawak di kabupaten Indramayu terletak pada posisi 06°56’022’’ LS dan 108°22’015’’ BT. Perairan pantai Pulau Biawak yang dikelilingi tubir pada saat pasang tinggi hanya mencapai kedalaman 1,5 meter pada bagian tubir merupakan areal perairan yang kaya dengan lamun. Beberapa spesies lamun yang umum ditemukan adalah Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Enhalus acroides, dan Halophila ovalis. Wilayah yang bersubstrat berlumpur di pesisir pulau biawak paling banyak ditumbuhi lamun berada di bagian Barat Daya sampai Barat Laut dan Sisi Timur pulau dengan kerapatan yang cukup tinggi.

      Pengertian lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae), mempunyai akar, batang, daun sejati yang hidup pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut  dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya (Asmus, 1985).

      Lingkungan di Pulau Biawak

      Di pulau Biawak padang lamun bersama-sama dengan mangrove dan terumbu karang bertindak sebagai penyangga ekosistem pesisir.Indonesia terletak di wilayah beriklim tropis, dan selalu mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun, sehingga sangat baik untuk petumbuhan lamun. Kebanyakan lamun terdapat di wilayah laut  bersubstrat lumpur dan dangkal seperti di pantai utara Jawa tepatnya Pulau Biawak dengan kedalaman 5m-10m. Kondisi saat ini di hampir sepanjang kawasan pesisir kabupaten Indramayu terkena abrasi, hal ini disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia yang menyebabkan rusaknya ketiga penyangga ekosisitem pesisir. Faktor alam  diantaranya adalah pengaruh iklim yaitu isu global warming yang menyebabkan naiknya permukaan air laut sehingga bibir pantai semakin terkikis oleh ombak. Naiknya permukaan laut ini dapat mengganggu ekosistem lamun karena lamun hidup pada perairan yang dangkal, dengan naiknya permukaan laut maka kedalaman habitat lamun pun bertambah dalam, sehingga tidak baik lagi untuk pertumbuhan lamun.

      Selain itu faktor manusia yang merusak ekosistem padang lamun melalui aktivitas penangkapan ikan di daerah kabupaten indramayu misal di pulau biawak, selain itu belakangan ini wilayah pesisir Indramayu dan Pulau Biawak sering ditemukan adanya ceceran minyak mentah (crude oil) yang disebabkan oleh bocornya pipa pertamina di lepas pantai,  ini terjadi di sepanjang pantai Pabean Udik dan Brondong, ceceran minyak yang masih fresh. Minyak mentah ini jelas sangat mengganggu ekosistem pesisir, salah satunya ekosistem padang lamun yang ada di pulau biawak, indramayu Jawa Barat. Karena minyak mentah yang tercecer di satu lokasi ,dapat terdistribusi menyebar ke lautan akibat adanya energy gelombang dan arus, laut lalu bisa mencemari ekosistem padang lamun yang terdapat di wilayah pesisir, ceceran minyak mentah ini bersifat racun bagi tumbuhan lamun dan menyebabkan matinya organisme laut lainnya. Rusaknya ekosistem padang lamun  akan berdampak pada rantai makanan dan aliran energi juga materi pada ekosistem lamun.

      Rantai Makanan

      Padang  lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustacea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Echinodermata (Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Kikuchi and Peres, 1977).

      Rantai Makanan Ekosistem Padang Lamun

      Lamun bertindak sebagai produsen yang menggunakan sinar matahari, air, nutrient, dan CO2 untuk memproduksi energi, proses ini dinamakan fotosintesis yang menghasilkan O2. Dalam rantai makanan lamun sebagai produsen primer mempunyai peranan yang sangat penting bagi biota laut lainnya.

      Bagian makro dan mikro yang didekomposisi dari lamun akan digunakan oleh mikroorganisme dan sangat memegang peranan penting sebagai sumber makanan untuk beberapa konsumen primer, seperti organisme planktonik.Padang lamun merupakan produsen primer  dalam komunitas di laut, sedangkan yang bertindak sebagai konsumen primer yaitu pemakan tumbuhan lamun dan pemakan fitoplankton contoh : penyu, dugong, gastropoda kecil yaitu trochidae, rissodae, dan centhiidae,serta beberapa krustacea dekapoda, polichaeta , dan echinodermata.

      Untuk konsumen sekunder yaitu  ditempati oleh karnivora, yang memangsa herbivora sebagai makanannya, mereka bertindak sebagai predator  moluska, crustacean, dan ikan-ikan kecil. Beberapa  jenis ikan predator yang ditemukan pada ekosistem lamun di perairan  P. Biawak antara lain : Bumphead parrotfish, angelfish, longfin bannerfish, butterfly, kerapu dan clown fish. Selain jenis ikan tersebut terdapat juga udang, lobster dan binatang laut pemakan karang (crown of thorn). Sekarang ini ikan-ikan  tersebut jarang ditemukan lagi akibat telah rusaknya ekosistem padang lamun akibat aktivitas masyarakat pesisir sekitar Selanjutnya konsumen tersier yaitu memangsa konsumen primer dan konsumen sekunder, seperti ikan pemangsa besar dan beberapa burung pemakan ikan, misal : hiu, burung pelikan dsb.

      Selain yang dijelaskan tadi dalam rantai makanan terdapat dekomposer, seperti bakteri dan mikroorganisme yang menguraikan daun yang telah mati yang disebut proses dekomposisi. Dekomposer  mengubah jasad tumbuhan lamun menjadi partikel kecil dan sejumlah gas yang dilepaskan kedalam air laut. Proses daur ulang oleh dekomposer ini sangat penting dalam menyediakan nutrient bagi biota  yang hidup di ekosistem padang lamun.

      Aliran Energi

      Gambar aliran energy ekosistem padang lamun

      Aliran energi pada ekosistem padang lamun (padang zostera) relatif tinggi dikarenakan  adanya proses sedimentasi, pencahayaan dan adanya pasang surut pada ekosistem padang lamun (Kiswara , 1999).

      Aliran Energi Dapat Disederhana Pada Gambar di Bawah Ini  :

      Siklus energi ini diawali dari energi matahari yang ditangkap oleh produsen dalam hal ini tumbuhan lamun, kemudian terus berputar tiada henti pada konsumen dan semua komponen ekosistem padang lamun, hal ini karena menurut hukum termodinamika bahwa energi dapat berubah bentuk, tidak dapat dimusnahkan serta diciptakan.

      Aliran energi di alam atau ekosistem tunduk kepada hukum-hukum termodinamika tersebut. Dengan proses fotosintesis energi cahaya matahari ditangkap oleh tumbuhan, dan diubah menjadi energi kimia atau makanan yang disimpan di dalam tubuh tumbuhan.

      Proses aliran energi berlangsung dengan adanya proses rantai makanan. Tumbuhan dimakan oleh herbivora, dengan demikian energi makanan dari tumbuhan mengalir masuk ke tubuh herbivora. Herbivora dimakan oleh karnivora, sehingga energi makanan dari herbivora masuk ke tubuh karnivora.

      Cahaya matahari sebagai sumber energi utama tumbuhan lamun untuk proses fotosintesis yang menghasilkan energi bagi  beberapa biota laut. Aliran energy dilihat dan dihitung dari produksi primer, aliran materi seperti O2, CO2, Fosfor, Nitrogen, biomassa, produksi dan konsumsi makrofauna dalam rantai makanan. Dapat dilihat total suplai makanan dan nutrient pada ekosistem padang lamun didapat dari ekosistem lamun sendiri, kemudian fitoplankton, dan dekomposer. Kemudian energy yang dihasilkan oleh produsen dimanfaatkan oleh beberapa biota yang bertindak sebagai konsumen melalui proses memangsa dan dimangsa dalam rantai makanan.

      Disusun Oleh :
      SHIFA DINI FITRIANI 230210080004
      RAMAWIJAYA 230210080050

      Rujukan Bacaan :

      –          Asmus, H. 1985. The importance of grazing food chain for energy flow and production in three intertidal sand bottom communities of the northern Wadden Sea. Helgolander Meeresunters. 39:273-301

      –          Kikuchi dan JM. Peres. 1977. Consumer ecology of segrass bed, pp 147-93.In P McRoy and C Helferich(eds) Sea grass Ecosystem.A scientific Perspective.Marc.Sci.Vol 4.Marcel Dekker Inc.New York

      –          Kiswara , Wawan. 1999. Perkembangan Penelitian Ekosistem Padang Lamun di Indonesia. Puslitbang Oseanologi – LIPI, Jakarta.

      March 31, 2010 Posted by | Marine Ecology | Leave a comment


      METEOROLOGI LAUT

      INDEKS OSILASI SELATAN SEBAGAI INDIKATOR

      EL NINO DAN LA NINA

      Cuaca dan iklim merupakan faktor utama yang sangat berperan terhadap seluruh aktifitas kehidupan. Aktifitas manusia yang makin meningkat mengakibatkan timbulnya perubahan pada komponen biofisik lingkungan, seperti meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfir, yaitu penyebab utama terjadinya pemanasan dan perubahan iklim. Akibat yang paling penting dari proses perubahan iklim adalah timbulnya peristiwa ekstrim seperti kemarau panjang, hujan badai, banjir, atau tanah longsor yang makin sering terjadi dan bahkan semakin besar.

      Pada umumnya timbulnya peristiwa ekstrim dapat dihubungkan dengan terjadinya penyimpangan iklim yaitu suatu penyimpangan cuaca dan iklim dari kondisi normal dalam selang waktu tertentu. Salah satu bentuk penyimpangan cuaca dan iklim adalah terjadinya fenomena El-nino dan La-nina yang akhir-akhir ini makin sering terjadi. Kejadian El-Nino biasanya berhubungan dengan peristiwa kemarau panjang atau kekeringan,  sedang La-Nina berhubungan dengan peristiwa banjir.

      Untuk lebih memahami keterkaitan Osilasi Selatan dengan Fenomena El Nino dan La Nina, sebaiknya kita perjelas makna dari beberapa istilah berikut:

      Ø El Nino adalah suatu kondisi abnormal iklim di mana  suhu permukaan laut Samudra Pasifik ekuator bagian timur dan tengah  lebih tinggi dari rata-rata normalnya . Kejadian ini kemudian sering muncul yaitu setiap tiga hingga tujuh tahun serta dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari satu tahun. El Nino adalah fenomena alam dan bukan badai, secara ilmiah diartikan dengan meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat.

      Ø La Nina merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di daerah Timur equator di Samudra Pasifik. Jika La Nina terbentuk, maka curah hujan yang tinggi akan berlangsung lebih lama. Jika dalam keadaan normal curah hujan di atas normal berlangsung hingga akhir Februari, maka saat La Nina muncul curah hujan tinggi akan berlangsung hingga April. La Nina adalah mendinginnya suhu muka laut dibawah rata-ratanya didaerah Pasifik timur dan tengah sekitar khatulistiwa.

      Ø Osilasi Selatan didefinisikan sebagai perbedaan medan tekanan  di daerah tropis dengan tekanan tinggi di Samudera Pasifik Selatan bagian tengah dan tekanan udara yang rendah di Australia, Asia Tenggara dan India Tengah serta Afrika Selatan dan Amerika Selatan.

      Osilasi selatan merupakan salah satu proses osilasi yang terjadi di bumi.Osilasi yang terjadi di bumi dapat dibagi menjadi osilasi yang terjadi pada atmosfer dan laut. Osilasi yang terjadi dilaut dapat di bagi menjadi osilasi yang terjadi dipermukaan laut dan dibawah permukaan laut.

      Osilasi yang terjadi di atmosfer terbagi menjadi :

      · Indeks AO (Arctic Oscillation) indikator karakteristik pola sirkulasi atmosfer yang mendominasi di Antartika.

      · Indeks NAO (North Atlantic Oscillation) indikator karakteristik pola sirkulasi atmosfer yang mendominasi di Samudera Atlantik Utara .

      · Indeks PNA (Pacific-North American Pattern) indikator karakteristik pola sirkulasi dan berhubungan dengan atmosfer yang mendominasi di Amerika Utara dan Pasifik Utara.

      · Decadal Oscillation merupakan El Nino, tetapi dalam skala waktu lebih lama dengan pola yang  terjadi di Amrika/Pasifik Utara.

      · Indeks SAM (Southern Annular Mode /Antarctic Oscillation=AAO) indikator karakteristik pola sirkulasi atmosfer yang mendominasi di Antartika.

      · Indeks SOI (Southern Oscillation Index) menunjukan perbedaan tekanan antara Darwin (Australia dengan Tahiti). Indeks ini dihubungkan dengan peristiwa El Nino dan La Nina.

      · Indeks AMO ( Atlantic Multidecadal Oscillation) Osilasi ini dihubungkan dengan curah hujan yang terjadi di Amerika Utara ( kekeringan ) dan Eropa ( badai/angin topan).

      Hubungan antara Osilasi Selatan dengan Fenomena El Nino dan La Nina  ialah Kejadian El Nino dapat direpresentasikan dengan beberapa indeks. Salah satunya adalah Indeks Osilasi Selatan (IOS) yang dihitung berdasarkan perbedaan tekanan permukaan laut antara Tahiti dan Darwin, Australia. Indeks in dihitung berdasarkan besar kecepatan angin pasat di atas ekuator Samudera Pasifik.  IOS yang bernilai negatif menandakan lemahnya angin pasat yang berarti terjadinya El Niño, sementara IOS positif sebagai indikasi terjadinya La Nina

      ENSO adalah kependekan dari El-Nino Southern Oscillation. ENSO merupakan istilah yang menggambarkan secara keseluruhan osilasi selatan (fenomena atmosfer) dengan  peningkatan suhu permukaan laut dan juga penurunan suhu permukaaan laut (fenomena lautan).Secara umum ENSO dibagi menjadi ENSO hangat (El-Nino) dan ENSO dingin (La-Nina). Kondisi tanpa kejadian ENSO biasanya disebut sebagai kondisi normal.Penggunaan kata hangat dan dingin adalah berdasarkan pada nilai anomali suhu permukaan laut  di daerah NINO di Samudera Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur Istilah ini digunakan untuk mengindikasikan kepada kejadian El-Nino  , yaitu meningkatnya suhu muka laut di daerah tengah dan timur ekuator laut pasifik. Osilasi selatan (southern oscillation) adalah osilasi tekanan atmosfer kawasan laut pasifik dan atmosfer laut Indonesia-Australia. Untuk memonitor osilasi selatan ini dibuatkan indeks osilasi selatan (SOI) yaitu nilai perbedaan  antara tekanan atmosfer di atas permukaan laut di Darwin (Australia) dan Tahiti (Pasifik Selatan), dimana bila semakin  negatif nilai SOI berarti semakin kuat kejadian panas  (El-Nino) dan sebaliknya semakin positif nilai SOI semakin kuat kejadian dingin (La-Nina) Nilai tersebut ditentukan dari selisih nilai tekanan udara permukaan yang telah dinormalisasi antara Tahiti dan Darwin. Menurut BOM (Bureau of Meteorogical) Australia, jika nilai rata-rata Indeks Osilasi Selatan mulai mencapai nilai lebih kecil atau sama dengan -10, maka periode El Nino mulai menampakkan diri. Sebaliknya gejala La Nina akan terjadi bila nilai Indeks Osilasi Selatan positif lebih dari 10.

      Nilai SOI

      Fenomena Yang Terjadi

      < -10 selama 6 bulan

      El Nino kuat

      -5 s.d -10 selama 6 bulan

      El Nino lemah-sedang

      -5 s.d +5 selama 6 bulan

      Normal

      +5 s.d +10 selama 6 bulan

      La Nina lemah-sedang

      > +10 selama 6 bulan

      La Nina kuat

      Selain nilai IOS,  juga telah didefinisikan indeks lainnya yang dihitung dari harga suhu permukaan laut yang biasa sebagai indicator el nino dan la nina disebut sebagai indeks NINO. Ada beberapa indeks NINO yang biasa digunakan yaitu:

      · NINO1+2 (0-10LS dan 90-80BB)

      · NINO3 (5LU-5LS dan 150-90BB)

      · NINO4(5LU-5LS dan 160BT-150BB)

      · NINO3.4(5LU-5LS dan 170-120BB).

      Harga indeks NINO yang positif dan lebih besar dari 0,5C menandakan terjadinya El-Nino dan harga indeks NINO yang negatif dan lebih kecil dari -0,5C menandakan terjadinya La-Nina.

      Demikian,semoga pembaca mendapatkan pengetahuan lebih mengenai cuca dan iklim serta fenomena el nino dan la nina

      RAMAWIJAYA

      2230210080050

      ILMU KELAUTAN UNPAD

      PUSTAKA

      www.oseanografi.blogspot.com

      Anonim, 2009. Dampak Dan Upaya Antisipasi Penyimpangan Iklim Khususnya Sektor Pertanian Dan Kesehatan.blogspot.com

      December 30, 2009 Posted by | Uncategorized | 16 Comments

      Hello world!


      Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

      December 13, 2009 Posted by | Uncategorized | 14 Comments